Painan, RW – Ketua Komisi IV DPRD Pesisir Selatan, Efrianto Datuak Rajo Panjang, menegaskan bahwa tradisi Balimau Paga bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang sakral untuk memperkuat adat sekaligus mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Balimau Paga di Mesjid Akbar Baiturrahman Painan, Senin (16/2), bersama Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni dan unsur Forkopimda serta tokoh masyarakat lainnya.
Menurut Efrianto Datuak Rajo Panjang, kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan adat seperti ini memberikan makna penting bagi keberlangsungan nilai-nilai budaya di tengah masyarakat.
Ia menilai, ketika unsur legislatif dan eksekutif hadir berdampingan dengan ninik mamak dan tokoh adat, maka pesan yang tersampaikan adalah komitmen bersama dalam menjaga warisan leluhur.
“Ketika pemerintah daerah ikut hadir dan terlibat, ini menjadi semangat baru bagi kaum ninik mamak untuk tetap konsisten memelihara adat dan tradisi sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat,” ujar Efrianto Datuak Rajo Panjang.

Ia menyebut, dukungan terhadap pelestarian adat bukan hanya tanggung jawab lembaga adat, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat.
Balimau Paga sendiri merupakan tradisi membersihkan pagar makam leluhur menjelang Ramadan. Namun dalam pandangan Efrianto, maknanya jauh lebih luas dari sekadar kegiatan fisik.
Tradisi ini, katanya, adalah simbol penghormatan kepada para pendahulu sekaligus pengingat bahwa generasi hari ini berdiri di atas perjuangan mereka.
Selain itu, Balimau Paga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan membangkitkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, nilai kebersamaan seperti ini dinilai sangat penting untuk terus dirawat agar tidak tergerus oleh individualisme.
Efrianto Datuak Rajo Panjang juga menekankan bahwa Balimau Paga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Membersihkan pagar makam, menurutnya, adalah perlambang membersihkan hati dari segala noda dan dosa.
Momentum ini terasa semakin bermakna karena bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan.
“Ramadhan adalah hadiah dari Allah SWT untuk umat Muslim, untuk penghapusan dosa-dosa dan penyempurnaan ibadah,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat Pesisir Selatan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang hanya datang sekali dalam setahun tersebut.

Menurutnya, Ramadan harus dijadikan titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
“Mari kita niatkan Ramadan tahun ini menjadi Ramadan terbaik, untuk mendapatkan pengampunan dari Allah SWT,” tuturnya dengan penuh harap.

Sementara itu, Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa Balimau Paga adalah warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Nagari Painan.
Ia menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual membersihkan pagar kuburan, tetapi simbol nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang.
Menurut Hendrajoni, terdapat tiga makna penting dalam Balimau Paga, yakni penghormatan kepada leluhur, penguatan silaturahmi, dan persiapan spiritual menyambut Ramadan.
“Membersihkan pagar adalah simbol dari membersihkan hati kita dari segala kotoran dan dosa,” tegasnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk ikut terlibat aktif dalam setiap kegiatan adat agar nilai-nilai budaya tetap hidup dan tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Kegiatan yang dihadiri anggota DPRD dari Dapil I Pesisir Selatan, Ketua KAN Nagari Painan, ninik mamak, serta Bundo Kanduang tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.
Menjelang akhir acara, doa-doa dipanjatkan bersama sebagai bentuk harapan agar Ramadan membawa keberkahan bagi Nagari Painan dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Bagi Efrianto Datuak Rajo Panjang, Balimau Paga dan Ramadan adalah dua momentum yang saling menguatkan—adat menjaga identitas, sementara Ramadan menyucikan jiwa—keduanya menjadi fondasi kokoh dalam membangun masyarakat yang beriman dan berbudaya. (Adv)



















