BATANG KAPAS, PESISIR SELATAN — Angka tiga bagi Kapten CPM (Purn) Afrizal Marzen bukan sekadar nomor yang keluar dari sebuah pengundian. Bagi pria yang akrab disapa Ujang PM itu, angka tersebut mengingatkannya pada satu filosofi yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau: Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan.
Filosofi itulah yang langsung terlintas dalam pikirannya ketika nomor urut 3 resmi berada di tangannya dalam pengundian nomor urut Calon Wali Nagari Tuik IV Koto Mudiek, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Jumat (25/9/2026).
Hari itu menjadi salah satu tahapan penting menuju Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Serentak 2026. Panitia Pilwana menetapkan empat bakal calon menjadi calon wali nagari definitif, sekaligus melakukan pengundian nomor urut.
Hasil pengundian menetapkan Taufik sebagai calon nomor urut 1, Apwan nomor urut 2, Kapten CPM (Purn) Afrizal Marzen atau Ujang PM nomor urut 3, serta Syahmiyardi nomor urut 4.
Bagi masyarakat Tuik IV Koto Mudiek, penetapan tersebut menjadi penanda dimulainya kontestasi gagasan tentang arah pembangunan nagari. Tuik IV Koto Mudiek terdiri dari tiga kampung, yakni Kampung Tuik, Kampung Baru dan Kampung Koto Gunung.
Nagari tersebut menjadi bagian dari 93 nagari di Kabupaten Pesisir Selatan yang dijadwalkan mengikuti Pilwana Serentak pada akhir Oktober 2026.
Di tengah proses pengundian, Ujang PM menyambut nomor urut yang diperolehnya dengan rasa syukur. Purnawirawan TNI AD tersebut memaknai angka tiga dengan filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau yang menempatkan kebersamaan sebagai salah satu fondasi kehidupan bernagari.
“Alhamdulillah, saya sangat senang dan gembira mendapatkan nomor urut 3. Angka ini memiliki makna tersendiri bagi kita sebagai orang Minangkabau, Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan. Semua nomor yang disediakan panitia pada prinsipnya rancak dan baik, tetapi nomor tiga ini menjadi doa dan harapan bagi saya,” ujar Ujang PM.
Dalam falsafah Minangkabau, konsep Tali Tigo Sapilin berkaitan dengan peran tiga unsur kepemimpinan masyarakat, yakni niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai. Ketiganya menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial dan adat di tengah masyarakat.
Filosofi tersebut pula yang ingin dibawa Ujang PM dalam gagasan kepemimpinannya. Menurut dia, pembangunan nagari tidak dapat hanya bertumpu pada wali nagari dan perangkat pemerintahan, melainkan membutuhkan keterlibatan unsur adat, agama, kaum intelektual, pemuda, bundo kanduang hingga seluruh masyarakat.
“Lewat nomor urut tiga ini, saya ingin membawa semangat kepemimpinan yang merangkul, mempersatukan dan menguatkan. Tidak ada pembangunan tanpa kebersamaan,” katanya.
“Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan harus kita jadikan salah satu fondasi dalam membangun Tuik IV Koto Mudiek. Pemerintah nagari tidak bisa berjalan sendiri. Semua unsur harus duduk bersama dan memiliki ruang untuk memberikan pemikiran bagi kemajuan nagari,” lanjutnya.
Puluhan tahun mengabdi sebagai prajurit TNI AD turut membentuk pandangan Ujang PM mengenai kepemimpinan. Ia mengatakan pengalaman tersebut ingin diterjemahkannya dalam tata kelola pemerintahan nagari yang menekankan disiplin, keterbukaan dan pelayanan kepada masyarakat.
Namun, menurut Ujang PM, ketegasan dalam kepemimpinan harus berjalan beriringan dengan kemampuan mendengar masyarakat. Sebab, persoalan di tingkat nagari memiliki karakter yang berbeda dan penyelesaiannya membutuhkan komunikasi serta musyawarah.
Karena itu, ia ingin momentum Pilwana tidak hanya dipandang sebagai persaingan untuk mendapatkan jabatan wali nagari. Kontestasi tersebut, menurut dia, juga dapat menjadi ruang pendidikan demokrasi bagi masyarakat.
“Beda pilihan itu biasa. Kita boleh memiliki calon masing-masing, tetapi persatuan masyarakat Tuik IV Koto Mudiek harus tetap menjadi yang utama. Jangan sampai karena Pilwana hubungan keluarga, hubungan sesama tetangga dan persaudaraan kita menjadi terganggu,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh calon dan masyarakat menjaga tahapan Pilwana agar berlangsung aman, tertib dan dalam suasana kekeluargaan.
“Mari kita jadikan Pilwana sebagai pesta demokrasi yang riang gembira dan sarana meningkatkan kedewasaan kita dalam berdemokrasi. Siapa pun pilihannya, keamanan, ketertiban dan kekeluargaan di nagari harus tetap kita jaga,” katanya.
Dalam kontestasi Pilwana Tuik IV Koto Mudiek, Ujang PM membawa visi “Mewujudkan Nagari Tuik IV Koto Mudiek yang Aman, Maju, Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.”
Visi tersebut, menurutnya, akan diterjemahkan melalui gagasan pembangunan yang tetap berakar pada nilai adat dan agama, sekaligus mendorong tata kelola pemerintahan nagari yang transparan dan pembangunan yang melibatkan masyarakat.
Kini, nomor urut telah berada di tangan masing-masing calon. Tahapan Pilwana pun terus bergerak menuju hari pemilihan. Bagi Ujang PM, angka tiga yang diperolehnya menjadi simbol yang ia kaitkan dengan semangat kebersamaan dalam menawarkan gagasan kepada masyarakat Tuik IV Koto Mudiek.
“Pada akhirnya masyarakatlah yang menentukan. Tugas kami adalah menyampaikan gagasan dengan baik, menjaga persaudaraan dan memberikan pendidikan politik yang baik pula. Pilwana akan selesai, tetapi kita akan tetap hidup bersama sebagai masyarakat Tuik IV Koto Mudiek,” tutup Ujang PM.



















