Aceh Lumpuh Total, Lisda Hendrajoni Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

Penulis -

Kamis, 11 Desember 2025 - 19:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh, RW – Anggota Komisi VIII DPR RI Lisda Hendrajoni kembali mendesak Presiden dan Pemerintah pusat, untuk menetapkan status bencana nasional di Sumatera.

Hal tersebut disampaikan Lisda dalam rapat darurat  Komisi VIII DPR RI bersama perwakilan Kementerian Sosial, BNPB, serta Kepala BPJPH Haekal Hasan serta Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, di Kantor Gubernur Aceh, Rabu (10/12).

Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VIII Ansory Siregar juga dihadiri oleh sejumlah anggota Komisi VIII DPR RI yang hadir dalam kunjungan langsung ke Provinsi Aceh tersebut.

Rapat tersebut berlangsung dalam suasana keprihatinan mendalam setelah para peserta mendengarkan paparan kondisi terkini dampak banjir besar yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh.

Lisda Hendrajoni menilai bencana banjir yang terjadi di Aceh telah berada pada skala luar biasa dan jauh melampaui kemampuan penanganan daerah.

“Kami hadir disini (Aceh) untuk menyaksikan langsung apa yang terkesan di Aceh. Melihat luas wilayah terdampak, jumlah korban, serta kerusakan yang terjadi, saya menilai bencana ini sudah selayaknya ditetapkan sebagai bencana nasional,” tegas Lisda.

Baca Juga :  Pasca Tragedi Ponpes Al-Khoziny, Lisda Hendrajoni: Pembangunan Pesantren Wajib Memenuhi Standar Keamanan.

Ia menekankan pentingnya percepatan masa tanggap darurat agar pemerintah dapat segera memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, khususnya untuk pemulihan kehidupan masyarakat terdampak.

“Pembangunan hunian sementara harus segera dipercepat. Warga tidak bisa terlalu lama bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas,” ujarnya.

Lisda juga menyoroti penanganan logistik dan layanan dasar bagi pengungsi, khususnya terkait dapur umum yang disediakan Kementerian Sosial. Menurutnya, kapasitas layanan yang ada saat ini belum sebanding dengan jumlah pengungsi yang mencapai ratusan ribu jiwa.

“Data yang kami terima, dapur umum yang tersedia masih sangat terbatas, sementara jumlah pengungsi di Aceh mencapai lebih dari 900 ribu orang. Ini tentu perlu perhatian serius dan langkah cepat dari pemerintah pusat,” katanya.

Selain itu, Lisda meminta BNPB segera mengoptimalkan sumber daya nasional dengan mengerahkan peralatan dan logistik dari provinsi lain yang tidak terdampak bencana.

“Apa pun sumber daya yang dimiliki BNPB di daerah lain harus segera dimobilisasi ke Aceh. Jangan sampai masyarakat terlalu lama menunggu bantuan,” tegasnya.

Baca Juga :  Pesisir Selatan Mulai Proses Rehabilitasi Rumah Korban Banjir dan Longsor

Lisda Hendrajoni kembali menegaskan bahwa pemerintah pusat harus segera mengambil langkah luar biasa agar Aceh tidak terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan berkepanjangan.

“Penetapan status bencana nasional akan membuka ruang percepatan anggaran, logistik, dan kebijakan. Ini yang sangat dibutuhkan masyarakat Aceh saat ini,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut, sejumlah anggota DPR RI juga menyampaikan keprihatinan serupa. Mereka menilai keterlambatan penyampaian data aktual kepada Presiden berdampak pada lambatnya pengambilan kebijakan strategis di tingkat nasional.

Sementara itu. Sekda Aceh, M. Nasir, dalam paparannya menyebutkan bahwa bencana banjir melanda 18 kabupaten/kota, dengan 15 daerah telah menetapkan status siaga darurat. Kabupaten Aceh Tamiang menjadi wilayah terdampak paling parah, di mana hampir seluruh permukiman warga terendam lumpur.

“Kondisinya sangat luas dan masif. Di wilayah tengah Aceh banyak terjadi longsor yang memutus akses darat, sementara stok Bulog di beberapa daerah mulai menipis,” jelas Nasir.

Ia juga mengungkapkan lebih dari 165 ribu rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga rusak berat. Menurutnya, skala kerusakan tersebut tidak mungkin ditangani Aceh tanpa dukungan penuh dari pemerintah pusat.

Baca Juga :  Penuh di Tiga Sesi! Film Suamiku Lukaku Jadi Magnet Kampanye Perlindungan Perempuan dan Anak

Rapat ditutup dengan dorongan kuat dari Komisi VIII DPR RI agar BNPB segera mengusulkan penetapan Bencana Nasional Sumatra, dengan Aceh sebagai wilayah episentrum kerusakan terparah, demi mempercepat penanganan dan pemulihan pascabencana. (Bee)

Berita Terkait

Pasar Painan Segera Rampung, Hendrajoni Dorong Pusat Perdagangan yang Nyaman dan Representatif
Tinjau Korban Banjir dan Longsor di Tapan, Hendrajoni: Pemerintah Hadir, Masyarakat Harus Bangkit
Ikuti Workshop Ekonomi Karbon Nasional, Hendrajoni Siapkan Langkah Penguatan Pembangunan Hijau di Pesisir Selatan
Bupati Hendrajoni Lantik Puluhan Pejabat Eselon III dan IV, Hendro Kurniawan Isi Jabatan Sekretaris Diskominfo Pessel
Lisda Hendrajoni Ajak Peserta ISKADA Sumbar Kembali Berwisata ke Mandeh, Dorong Ekonomi Perempuan Pesisir Selatan
Perokok di Rumah Sakit Jadi Sorotan, Pansus DPRD Pessel Perketat Pembahasan Ranperda KTR
Raih Nomor Urut 3, Ujang PM Bawa Filosofi Tali Tigo Sapilin untuk Tuik IV Koto Mudiek
Setujui APBD Perubahan 2026, Fraksi Persatuan Bintang Perjuangan DPRD Pessel Ingatkan Pemkab Jangan Sekadar Habiskan Anggaran
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:04 WIB

Pasar Painan Segera Rampung, Hendrajoni Dorong Pusat Perdagangan yang Nyaman dan Representatif

Minggu, 18 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Tinjau Korban Banjir dan Longsor di Tapan, Hendrajoni: Pemerintah Hadir, Masyarakat Harus Bangkit

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Ikuti Workshop Ekonomi Karbon Nasional, Hendrajoni Siapkan Langkah Penguatan Pembangunan Hijau di Pesisir Selatan

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Lisda Hendrajoni Ajak Peserta ISKADA Sumbar Kembali Berwisata ke Mandeh, Dorong Ekonomi Perempuan Pesisir Selatan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Perokok di Rumah Sakit Jadi Sorotan, Pansus DPRD Pessel Perketat Pembahasan Ranperda KTR

Berita Terbaru