PESISIR SELATAN, RW — Kabupaten Pesisir Selatan resmi menjadi pilot project Program Pengimbasan Training of Trainer (ToT) Pengajar Al-Qur’an Isyarat 2025. Penunjukan ini menegaskan komitmen untuk membuka akses pembelajaran agama yang lebih inklusif bagi anak penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu.
Program tersebut dirancang untuk memberikan metode pembelajaran Al-Qur’an yang dapat diakses melalui pendekatan bahasa isyarat. Metode ini memungkinkan siswa tuna rungu memahami bacaan Al-Qur’an melalui visualisasi gerakan dan sistem komunikasi nonverbal yang terstruktur.
Al-Qur’an Isyarat kini berkembang menjadi salah satu inovasi pendidikan nasional dalam pengajaran agama bagi penyandang disabilitas. Metode ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan pengajaran konvensional yang sulit dijangkau siswa dengan hambatan pendengaran.
Pelaksanaan ToT digelar selama dua hari, tepatnya pada 21-22 November, dengan melibatkan 30 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di Pesisir Selatan. Para peserta mengikuti sesi pelatihan intensif yang dirancang untuk memperkuat kompetensi pengajaran berbasis isyarat.
Dalam pelatihan tersebut, fasilitator memberikan pendampingan terkait standar gerakan, teknik penyampaian materi, serta cara mengadaptasi ayat-ayat Al-Qur’an agar lebih mudah dipahami oleh siswa tuna rungu.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Wilayah Pesisir Selatan, Muslim Arif. Ia menyambut baik terpilihnya Pesisir Selatan sebagai daerah percontohan untuk metode pembelajaran berbasis inklusi ini.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Baznas yang turut mendukung penyelenggaraan program tersebut dan menjadikan daerah itu sebagai model awal pelaksanaan.
Muslim Arif menilai program ini memiliki dampak besar khususnya bagi guru SLB yang selama ini menghadapi keterbatasan perangkat pembelajaran Al-Qur’an untuk siswa disabilitas.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para guru yang mengajar di SLB sehingga anak-anak yang memiliki keterbatasan tetap bisa mengenal dan belajar Al-Qur’an,” ujarnya.
Sementara itu, PIC Pengajar Al-Qur’an Isyarat 2025, Galih Sudiyanto, menjelaskan bahwa kegiatan menghadirkan narasumber profesional dari Jakarta serta fasilitator yang telah bersertifikasi di tingkat nasional.
Ia menambahkan bahwa pelatihan selama dua hari tersebut difokuskan pada peningkatan pemahaman teknis dan penguasaan metode Al-Qur’an Isyarat secara sistematis.
“Kegiatan ini mendatangkan narasumber dari Jakarta serta fasilitator yang telah bersertifikasi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari,” jelasnya.
Salah satu peserta pelatihan, Cendra, menyampaikan bahwa program ini sangat relevan dengan kebutuhan pengajaran di SLB, mengingat tingginya minat siswa tuna rungu terhadap pembelajaran Al-Qur’an.
“Kegiatan ini sangat baik, karena minat anak-anak Pesisir Selatan cukup tinggi untuk mempelajari kitab suci Al-Qur’an meski dengan keterbatasan,” tuturnya.
Program ini memberikan harapan baru bagi pengembangan pendidikan agama yang adil dan merata bagi seluruh peserta didik di Pesisir Selatan.
Ke depan, program serupa diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi di kabupaten dan kota lain di Sumatera Barat, sehingga pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas semakin mudah diakses. (Bee)



















